Friday, 18 June 2021


Bisnis Semangka, Membawa Butet Penyuluh di Aceh Tamiang Menjadi Kaya

07 May 2021, 09:26 WIBEditor : Ahmad Soim

Butet dan semangkanya | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Berkat usaha dan kerja kerasnya, dari hasil menanam semangka, Butet bisa membeli mobil pik up.

Butet anggota kelompok wanita tani (KWT) Mari Menanam, dusun Butsi desa Mesjid Sungai Yu, kecamatan Bendahata Kabupaten Aceh Tamiang, awalnya hanya memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam sayuran. Namun dirinya yang juga selaku penyuluh mengajak anggota kelompok yang lain, bergotong royong dan bantuan swadaya masyarakat untuk membersihkan lahan seluas dua hektar yang selama ini terlantar. Selanjutnya atas inisiatif dia, lahan tersebut diolah menjadi lahan yang produktif sehingga bisa ditanami semangka. Alhamdulillah diperkirakan hasil panennya kali ini bisa mencapai 24 ton per hektar. 

Di samping itu, ia bersama keluarga menggarap lahan dengan menanam semangka juga di lokasi lain, sehingga luasnya menjadi 24 rante. Hasilnya luar biasa, tahun lalu saja bisa untuk membeli sepetak sawah dan sekarang satu unit mobil pick up (tiga suku). "Mobil tersebut untuk mendukung kelancaran operasional, dengan DP sebesar Rp 60 juta", sebutnya.

BACA JUGA: 

Jenis semangka yang ditanam katanya, menggunakan tiga varietas yaitu Baginda, Amara dan Inden di lahan seluas 1 hektar. Sebelumnya pengalaman bertani dilakukannya sejak tahun 2004, dia dan suaminya sudah mulai bertani dengan menanam sayur-sayuran, paria, cabai merah serta semangka.

Keunggulan bibit semangka diketahui belajar secara online melalui chanel Youtube, dan kemudian dibeli dari kios saprodi untuk diujicobakan pada lahan demplot.

Dalam budidaya semangka non biji, untuk mencapai hasil yang optimal lanjutnya, perlu menyiapkan waktu antara pukul 7 hingga pukul 9 pagi untuk melakukan perkawinan silang. Kegiatan ini membutuhkan kesabaran dan ketelitian.

Pada saat olah tanah diberikan pupuk kandang dan untuk setiap tanaman diberikan pupuk NPK Mutiara dengan dosis 3 - 5 gram.

Dengan adanya kegiatan demplot tersebut, Butet yang sehari hari bertugas sebagai koordinator BPP Seruway, ingin berbagi ilmu dan pengalamannya. Harapannya akan terjadi proses transfer teknologi bagi petani baik dalam mengolah tanah, budidaya, panen serta pemasaran hasilnya.

Dari beberapa kali menanam semangka tersebut hasil analisis usahatani, mendapatkan nilai sangat layak dan menguntungkan. "Prospeknya sangat menjanjikan untuk dijadikan usaha bisnis", bebernya.

Nurcahaya salah satu PPL, menilai Butet sebagai sosok yang ulet, supel dan bijak. Selain berkepribadian menarik, ramah dengan semua orang, juga konsisten dan penuh komitmen. "Prinsipnya tidak hanya berbicara namun perlu pembuktian dengan bekerja nyata", tuturnya. 

Alhamdulillah dengan nikmat sehat dan dapat memanfaatkan waktu luang mengelola lahan terlantar, semoga ini menjadi berkah. Bersama suami dan anaknya, juga para milenial di kampungnys mereka menggarap lahan yang tidak produktif menjadi produktif dan menghasilkan nilai tambah. Waktu luangnya, setelah menjalani rutinitas di kantor dihabiskan bersama petani, untuk bercocok tanam di lahan satu hektar. Lahan kelompok seluas satu hektar dikelola bersama anggota yang berminat serta dibagi per anggota mulai 2 - 10 rante per anggota (1 hektar = 25 rante).

Tanaman Semangka di tanam pada dua lokasi dengan luasan areal masing-masing 10 rante dan 14 rante. Sampai saat ini penjualan sudah mencapai 10 - 12 ton, sedangkan sebagiannya masih menunggu produksi. "Masih ada yang 14 rante lagi dan minggu ini akan dipanen juga", ujarnya bangga.

Untuk pemasarannya selain melalui agen juga melibatkan milenial untuk menjual langsung kepada konsumen. Penghasilan mereka berkisar Rp 75.000 - 100.000 per orang/3 jam (sambil menunggu beduk berbuka).

Sebelumnya ia menanam 4 varietas dalam satu hamparan, namun hasilnya kurang. Sekarang dicoba tiga varietas, ternyata hasilnya lumayan meningkat. 

Semangka kuning biasanya paling banyak digemari dan disukai, karena warnanya menarik dan rasanya lebih renyah dijual dengan harga Rp 5000/kg dan yang merah Rp 3.000/kg, dengan rata – rata berat per buah berkisar 2 – 4 kilogram, bahkan ada yang 7 - 10 kg.

KWT yang diketuai Eti Mardiah tersebut dibentuk pada tahun 2020 dengan jumlah anggota 21 orang, sebelumnya sudah pernah ditanami Cabai merah, Jagung dan Semangka. Untuk cabai merah yang ditanam pada lahan 10 rante pernah menghasilkan panen sebanyak 3,5 ton dan harga jual Rp 35.000 per kilogram. Bibitnya dibuat sendiri dan diberi nama Indrapura.

Sementara untuk tanaman Jagung digunakan varietas Bonanza (Jagung manis) harga per kilo (3 buah) Rp 3.500, keuntungan bersih selama 2 bulan Rp 4 juta. Hasil dari penjualan dan keuntungan tersebut disimpan dalam kas kelompok. "Harapannya dengan adanya kas tersebut, setiap anggota yang membutuhkan bisa memanfaatkannya sebagai modal kedepan", imbuhnya.

  === 

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Abda
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018