Minggu, 14 April 2024


Benih Bioteknologi, Solusi Saat Beban Produksi Kian Berat

14 Mar 2024, 08:54 WIBEditor : Yulianto

Manfaat benih bioteknologi | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Benih unggul menjadi kunci peningkatan produksi pangan. Namun tantangan pembangunan pertanian ke depan semakin berat. Untuk itu, diperlukan terobosan dengan memanfaatkan teknologi. Salah satunya melalui pengembangan benih bioteknologi. 

“Benih itu produk bioteknologiBenih bukan lagi tanaman mini embrional. Benih itu lahir dari bioteknologi dan rekayasa genetik.”  Pernyataan tersebut diungkapkan dari Bapak Benih Indonesia Sjamsoe’oed Sadjad dalam Buku Falsafah Benih.

Sebagai sebuah hasil bioteknologi dan rekayasa genetik, sayangnya banyak kalangan yang salah paham terhadap pengembangan benih hasil bioteknologi. Padahal untuk menjawab tantangan pertanian yang makin besar, caranya dengan memanfaatkan teknologi secara maksimal. Misalnya, pengembangan benih bioteknologi.

Seperti diketahui tantangan peningkatan produksi pangan diantaranya, produktivitas stagnan, tekanan pemanfaatan lahan sub optimal dan dampak perubahan iklim seperti gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), kekeringan, salinitas dan banjir. Dalam jangka panjang, tenaga kerja pertanian juga akan semakin mahal, air menjadi langka, harga agroinput mahal dan lahan budidaya cenderung marjinal.

Dengan tantangan tersebut, Presiden Konsorsium Bioteknologi Indonesia (KBI), Mastur menilai, benih memiliki peran yang sangat penting dalam peningkatan produksi. Benih merupakan salah satu komponen produksi yang memiliki pengaruh pada komponen produksi lain seperti pupuk, irigasi dan lain sebagainya.

“Benih menjadi lokomotif dalam peningkatan produksi karena dapat berinterasi dengan komponen produksi lain,” kata Mastur saat webinar Mengenal Lebih Dekat Benih Bioteknologi yang diselenggarakan Tabloid Sinartani bekerjasama dengan Croplife, Bayer dan Konsorsium Bioteknologi Indonesia (KBI) di Jakarta, Rabu (6/3).

Dalam menghasilkan benih unggul, Mastur menjelaskan, strategi pemuliaan mulai dari penggunaan varietas lokal, persilangan, hingga bioteknologi yang terbagi menjadi dua yaitu molekular dan in vitro. Dari bioteknologi molekuler yang kemudian berkembang menjadi rekayasa genetik, terdiri dari transgenik dan genom editing.

Bioteknologi molekular dengan rekayasa genetika generasi pertama yang dikenal dengan transgenik menghasilkan varietas tebu transgenik tahan kering, kentang biogranola tahan hawar daun dan tomat tahan virus, serta padi effisien N. Sedangkan contoh komoditas hasil genom editing yakni, padi tahan rebah, jeruk tahan CPVD dan cabai tahan virus gemini Artemesia.

Contoh lainnya hasil genom editing adalah kedelai tahan ulat jengkal. Hasil penelitian Parrott tahun 2023 dengan sedikit perubahan gen di tanaman kedelai dapat meningkatkan ketahanan terhadap ulat jengkal. ”Jadi efeknya luar biasa, tanaman kedelai memiliki ketahanan ulat jengkal. Ini sangat jauh berbeda dengan pemuliaan konvesional dengan seleksi yang memerlukan waktu lebih lama,” tuturnya.

Mastur mengungkapkan, saat ini ada beberapa Varietas Unggul Baru (VUB) PRG yang sudah dilepas diantaranya tebu NXI-4T (tahan kekeringan), kentang SP951 Bio Granola (tahan hawar daun), jagung GA21, Jagung NK603, jagung GA21 x Bt11. “Secara umum karakternya terkait ketahanan terhadap herbisida dan penggerek, juga aspek yang terkait dengan kekeringan,” tambahnya. 

Dengan berkembangnya teknologi transgenik ada beberapa pihak yang kurang sependapat. Baca halaman selanjutnya. 

 

Reporter : Herman
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018