
Pemerintah terus melakukan modernisasi metode tanam pun terus dikembangkan. Salah satunya konsep Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS).
PM-AAS dibangun di atas tiga prinsip utama. Pertama, optimalisasi fotosintesis tanaman melalui pengaturan jarak tanam yaitu menggunakan sistem tanam jajar legowo 4:1 dan 6:1. Kedua, peningkatan populasi tanaman secara berkesinambungan. Ketiga, penerapan pertanian yang presisi agar penggunaan input produksi menjadi lebih efisien.
Sistem jajar legowo, menurut Amran dapat memperbaiki fotosintesis tanaman. Dengan peningkatan populasi tanaman yang biasanya sekitar 300-360 ribu rumpun/ha menjadi 800 ribu sampai 1 juta rumpun/ha. “Dengan populasi hampir tiga kali lipat, produksinya juga sangat masuk akal meningkat hingga mendekati tiga kali lipat," tuturnya.
Namun Amran mengakui, keberhasilan PM-AAS tidak hanya diukur dari peningkatan hasil panen, tetapi juga peningkatan pendapatan petani. Berdasarkan analisis usaha tani, metode budidaya modern tersebut mampu mengubah struktur ekonomi rumah tangga petani secara signifikan.
Pada sistem budidaya konvensional, biaya produksi sekitar Rp13 juta/ha dengan produksi rata-rata 5,2 ton gabah/ha. Hitungannya, petani memperoleh keuntungan sekitar Rp20,79 juta per musim tanam atau setara pendapatan sekitar Rp5,19 juta per bulan.
Namun dengan metode PM-AAS, biaya produksi memang meningkat dengan bertambahnya kebutuhan benih, menjadi sekitar Rp 15,17 juta/ha. Namun peningkatan biaya tersebut terkompensasi dengan produktivitas yang juga meningkat hingga 12,4 ton/ha.
Dengan peningkatan produktivtas, keuntungan petani bisa mencapai Rp 65,43 juta per musim tanam atau sekitar Rp16,36 juta per bulan. Dengan demikian, rasio keuntungan (B/C Ratio) meningkat dari 1,60 menjadi 4,31.
"Dulu biaya sekitar Rp13 juta, sekarang menjadi Rp15 juta, naik hanya sekitar Rp2 juta. Tetapi pendapatan bersih petani yang sebelumnya sekitar Rp5 juta per bulan meningkat menjadi Rp16,3 juta per bulan. Naik tiga kali lipat. Ini yang kita kejar," tutur Amran.
Mengubah Sistem Budidaya
Sementara itu Dr. Wage Ratna Rohaeni, Peneliti Pemulia Tanaman, Genetika, dan Bioteknologi BRMP Padi, PM-AAS bukan sekadar mengganti cara tanam, tetapi merupakan sistem budidaya yang mengintegrasikan seluruh komponen teknologi agar saling mendukung.
"PM-AAS mengoptimalkan populasi tanaman, efisiensi biaya produksi, penggunaan mekanisasi, serta perlindungan tanaman sejak awal. Semua komponen harus berjalan bersama sehingga tanaman mampu menghasilkan produktivitas tinggi," ujarnya.
PM-AAS mengadopsi berbagai keunggulan tersebut dan menyesuaikannya dengan kondisi agroekosistem Indonesia. Salah satu inovasi utamanya adalah penggunaan sistem Tabela atau tanam benih langsung yang memanfaatkan alat tanam modern sehingga kebutuhan tenaga kerja jauh lebih rendah dibandingkan sistem pindah tanam.
Berbeda dengan sistem konvensional yang memerlukan persemaian, pencabutan bibit, hingga penanaman ulang, metode tabela menempatkan benih langsung di lahan yang telah dipersiapkan. Proses budidaya menjadi lebih singkat, lebih hemat biaya, sekaligus mempercepat waktu tanam.
"Semakin sedikit tahapan budidaya yang dilakukan tanpa mengurangi kualitas pertumbuhan tanaman, maka efisiensi usahatani akan meningkat. Itu menjadi salah satu prinsip PM-AAS," kata Wage.
Bagi sahabat SINAR TANi yang ini mendapatkan informasi lengkap teknologi budidaya padi bisa membacanya di Tabloid Sinar Tani Cetak atau e paper. Jika ingin berlangganan bisa mengubungi bagian pemasaran. No. telp (021) 7812162/63