Monday, 23 May 2022


KWT Melati Kulonprogo, Ajak Emak-emak Buat Camilan Singkong

09 May 2022, 14:04 WIBEditor : Yulianto

Yulia, pengurus KWT Melati Kulonprogo | Sumber Foto:Dok. Yulia

TABLOIDSINARTANI.COM, Yigyakarta---Membuat olahan pangan lokal berbahan ubi kayu (singkong) menjadi pilihan ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, Pereng, Kulonprogro.  Sumber bahan baku yang berlimpah dan pasar yang semakin terbuka lebar membuat KWT tersebut terus berkreasi mengolah singkong menjadi berbagai produk yang sehat dan nikmat.

Pola hidup sehat yang saat ini banyak dilakukan masyarakat membuat permintaan produk olahan pangan lokal semakin meningkat. Hal tersebut juga dirasakan produsen olahan pangan lokal berbahan ubi kayu, Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati yang terletak di Pereng, Sedangsari, Kulonprogo.

KWT Melati saat ini memang fokus pada pembuatan berbagai olahan pangan lokal berbasis umbi-umbian. Yuliana Ralifa, pengurus KWT Melati mengatakan, dipilihnya umbi-umbian sebagai bahan baku karena memiliki banyak manfaat. Bahkan kandungan karbohidrat yang dapat menggantikan karbohidrat dari beras.

Saat ini KWT Melati memfokuskan pada pengolahan empat jenis umbi yaitu ubi kayu, garut. tales dan ubi ungu. “Kami hanya memilih empat jenis karena gampang didapat dan selalu tersedia,” kata Yuli saat Bimbingan Teknis Sosialisasi Daring ProPakTani Episode 414 bertema Peningkatan Nilai Tambah Komoditas Ubi Kayu Melalui Pengolahan Hasil, beberapa waktu lalu.

Dari Garut ke Singkong

Yuli bercerita, awalnya KWT Melati mengolah umbi garut pada 2010-2012 menjadi emping dan tepung. Namun karena bahan baku garut hanya tersedia musiman yaitu pada Juni-Oktober, akhirnya KWT Melati mencoba untuk mengolah singkong agar bisa terus berproduksi sepanjang tahun.

“Tahun 2013 kami coba berinovasi untuk mengolah ubi kayu untuk menjadikan produk dari tepung mocaf, tepung tiwul, agar pada Januari-Mei ketika belum tersedia garut kami masih tetap bisa berproduksi,” jelasnya. 

KWT Melati mencoba mengolah singkong menjadi terpung mocaf beserta berbagai produk olahanya dan pati basah dari singkong yang memang sudah memiliki pasar. Selain dipasarkan dalam bentuk tepung, KWT Melati juga berinovasi membuat makanan berbahan tepung mocaf seperti  stik mocaf, egg roll mocaf dan mie mocaf yang diberi nama maioku.

“Tepung mocaf atau tepung tiwul juga bisa dibuat menjadi bolu kukus, bronis, dan tiwul instan dari tepung mocaf,” tambah Yuli.

Dalam membuat tepung mocaf, Yuli mengaku di KWT Melati memiliki cara yang agar berbeda. Dalam memilih singkong dari petani harus yang benar-benar layak, bagus dan cocok sebagai bahan pembuatan tepung.  “Untuk mocaf kami pilih singkong yang varietas agak pahit. Untuk tiwul kami pilih jenis singkong yang enak, empuk bila dikonsumsi,” tuturnya.

Dengan makin banyaknya masyarakat yang menggemari makan sehat berbahan baku alami, Yuli yakin permintaan tepung mocaf dan turunannya terus meningkat. Dalam pemasaran, KWT Melati melakukan baik langsung, titip jual atau kemitraan.

Awalnya pemasaran dengan menitipkan di warung, menjual langsung ke konsumen. Namun berjalanya waktu dengan dibantu dinas-dinas terkait KWT Melati sering diikutkan ke pameran dan temu usaha, sehinga bisa memasukan produk ke beberapa tempat seperti toko oleh-oleh, alfamart dan indomar, serta berbagai kerjasama pemasaran lainnya.

Tepung Mocaf sendiri memiliki banyak keunggulan dibandingkan tepung terigu yang memang sudah dikenal luas dan memiliki harga yang lebih murah. Beberapa keunggulan tepung mocaf antara lain mengandung kaslium, fosfor dan serat yang lebih tinggi. Kaya vitamin C, memiliki warna yang lebih putih, memiliki tekstur yang lebih halus, tidak ada bau khas singkong, dan elastisitas meningkat.

Selain itu juga tepung mocaf rendah gula sehingga dapat dikonsumsi semua orang, cocok bagi penderita diabetes dan autis, serta lebih mudah digunakan ke produk pangan. “Dengan berbagai unggulan, saat ini tepung mocaf banyak diminati terutama bagi masyarakat yang sudah beralatih ke makanan alami dan sehat,” ungkapnya

Reporter : Herman
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018